Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Mei 2011

Sandal


Sandal, sandal lagi. Tak pernah hari-hariku bebas dari urusan sandal, mulai dari sandal hilang, sandal ketuker, sampai sandal ketinggalan. Kadang berangkat pake sandal hijau pulang bawa sandal merah, atau sama-sama sandal hijau tapi bedanya yang tadi dibawa baru nah pas sampai rumah jadi jelek.
“Madun…..!” Pasti gara-gara sandal. Ah dasar sandal selalu bikin gara-gara.
“iki kok jadi kayak gini sandalnya, baru kemarin beli sekarang udah tipis,”
Yang diomeli diam pura-pura tak dengar. Males, Cuma bikin telinga tambah panas, hati tambah sakit. Kicau burung itu tak akan berhenti sampai nanti malam.

Sandal baru telah sampai di sebuah rumah, entah rumah siapa tadi si pemilik sandal meninggalkannya di depan musholla. Buru-buru mau mengantar dagangan ke pondok, jadilah dia lupa kalau sandal hijaunya tadi bukan yang ini, sandal hijaunya bukan yang ada di depan musholla, tapi tadi dia sembunyikan di samping musholla, ketutup sebuah batu bata, jadi tak mungkin ada yang melihat, tak mungkin juga orang akan menukar sandalnya.

Si pemilik sandal buntut keluar dari musholla celingukan mencari sesuatu. Apalagi kalau bukan sandal hijau buntut miliknya yang belum pernah ganti sejak setahun yang lalu, sampai putus beberapa kali disambungnya lagi dengan lilin.
“Sial. Udah jelek masih juga ada yang ambil.” Batin si pemilik sandal buntut.
Ia mencari ke sudut yang lain, siapa tahu ada yang pinjam tidak dikembalikan ke tempatnya, atau mungkin ada yang sedang usil menyembunyikan sandalnya. Mungkin anak-anak kecil itu, sudah sering para kakek jadi korban mereka. Melihat kakek-kakek kebingungan mencari sandal adalah sebuah hiburan gratis buat mereka.
Si pojokan, tak ada, pojokan yang lain, kosong, hingga matanya baru saja melihat sesuatu di balik batu bata, didekatinya, lalu dia tengok.
“Sandal siapa ini.” Batinnya, si pemilik sandal buntut tolah toleh ke kanan, ke kiri, ke dalam mushollah, tak ada orang. Dia melangkah ke belakang, tak ada orang.
“lalu sandal siapa ini.” Diperhatikannya sepasang sandal itu, bukan miliknya. Lalu siapa yang sengaja meninggalkannya? Apa sengaja seseorang menukarnya. Ah, Tidak. Kalau sengaja, pasti dia tidak akan membuat si pemilik sandal buntut kebingungan dengan menaruhnya di balik batu bata. Kenapa tidak ditaruh saja pas di depan musholla? jadi pas keluar dia langsung lihat.
Ah, mungkin orang itu pikun naruh sandal di mana, makanya sandalku jadi sasaran.
Si pemilik sandal baru masih memutar otak mencari-cari siapa yang kira-kira menukar sandalnya. “Dasar watak pencuri, pura-puranya saja ke mushollah, sandal orang diambil.”

Cerita tentang sandal jadi pembicaraan satu kampung. Tentang seseorang yang suka mencuri sandal. Tapi entah kenapa yang jadi korban selalu si Madun, pemilik rumah di samping mushollah. Pernah sekali seorang Pak Kaji kehilangan sandal, tapi ternyata pencurinya orang luar kampung. Sekarang orang itu tak pernah ke sini. Pernah juga Wak Supri kebingungan kehilangan sandal tapi ternyata disembunyikan sendiri oleh cucunya. Sekarang cucunya sudah tobat semenjak masuk ke pesantren. Dulu malah sering, kakek-kakek kehilangan sandal, eh ternyata sandal disembunyikan di kolong musholla, ada juga yang ketemu di kamar mandi, ada yang menyelempit diantara vas-vas tanaman, ada yang tiba-tiba sudah ada di rumah. Siapa lagi pelakunya kalau bukan geng si kurcil, anak kecil usia TK dan SD yang suka usil pada kakek-kakek. Sekarang mereka sudah besar, ada yang sekolah sma, ada yang kerja, ada yang masuk pesantren, tak ada lagi si kurcil yang suka menyembunyikan sandal. Lalu siapa? Sejak si kurcil masuk usia remaja, tak ada lagi pembicaraan tentang sandal di kampung. Hingga suatu ketika kedatangan seorang lelaki dari pondok, membuat cerita baru tentang sandal.

Madun. Lelaki usia 25 tahun baru saja lulus dari pesantren. Kabarnya dia baru saja ditugaskan ke Madura, menjadi seorang ustadz selama setahun. Lalu lulus dengan prestasi yang membanggakan. Madun jadi pembicaraan ibu-ibu di emperan, yang sedang sibuk memilih belanjaan, ada sayur, ikan, tempe, tahu, dan rempah-rempah.

“Siapa kira-kira ya yang jadi jodoh si Madun?”
Bukan karena mereka mengharapkan punya mantu Madun, tapi si Madun yang pendiam dan tidak pernah berinteraksi dengan perempuan bagaimana bisa mendapapatkan seorang gadis untuk menjadi pendamping hidupnya.

Kedatangan Madun membuat cerita baru tentang sandal. Kali ini bukan kakek-kakek yang kehilangan sandal karena dicuri oleh geng kurcil. Atau sebaliknya kakek-kakek balas dendam menyembunyikan sandal-sandal bocah kecil. Kali ini yang kehilangan sandal ada pemuda dewasa berusia 25 tahun, entah kenapa dia yang selalu jadi sasaran. Sebenarnya ada lagi 5 pemuda lain yang sebaya dengannya, tapi mereka tak pernah ketimpa sial. Atau mungkin pencurinya sengaja memilih pemuda pesantren untuk menguji iman, bagaimana hasil dia nyantri selama sepuluh tahun. emangnya si pencuri itu mikir soal iman.

“Madun, Madun, kenapa musti kamu yang jadi korban.”
“Atau jangan-jangan pencuri itu bukan dari bangsa manusia. Mungkin dia menyukaimu karena kamu satu-satunya pemuda yang lulusan pesantren.”
Madun yang dipidatoi tetap diam. Dia memang selalu diam tiap kali nenek bicara, dan dia memang pendiam. Hanya dengan beberapa orang saja dia sedikit banyak bicara, tidak banyak, itu pun tentang satu topic. Bagaimana hukum melakukan ini dan itu, selalu tentang hukum apakah ini halal atau haram. Tak penting kusebutkan siapa orang itu.

Isu tentang makhluk halus yang suka dengan si Madun pun merebak. Kabarnya makhluk itu adalah bangsa jin. Dia adalah putri seorang raja jin. Putri itu anak tunggal, raja melarangnya bermain dengan anak-anak jin lain yang tak selevel, makanya ia kesepian. Dia mencuri sandal Madun karena ingin punya teman main. Ibu-ibu itu ada-ada saja, gosip memang lebih sedap kalau dibumbui. Semakin banyak bumbunya semakin sedap rasanya.

Suatu ketika ada syukuran di rumah pak Sukri. Madun yang anak pesantren tak pernah absen kalau ada acara begituan. Sebenarnya tidak cuma Madun, yang lain pun juga begitu. Apalagi kalau yang mengadakan syukuran orang kaya, beberapa hari sebelum syukuran sudah ada bisik-bisik ikan apa nanti yang dibuat berkatan.
Saat hampir masuk depan rumah, mata Madun menangkap sesuatu. Sandal. Bukannya sandal itu mirip sandalnya yang hilang dulu? Sandal hijau baru yang ditukar dengan sandal buntut. Baru ada lima sandal di depan, pintu berarti baru ada lima orang di dalam. Madun masuk memperhatikan wajah-wajah di dalam ruangan, Pak Sober yang sudah kepala lima, Pak Subur kakak Pak Sober, Wak Kholil yang sudah selalu bawa tongkat kemana-mana, Wak Nur yang sudah punya 10 cicit. Kurang satu orang.
Pasti diantara lima itu yang mencuri sandal Madun.
Selama membaca tahlil Madun terus memperhatikan keempat wajah itu dengan sesekali menoleh ke arah lain kalau si pemilik wajah merasa ada yang memperhatikannya sejak tadi. Heran, tua tua masih juga tidak insyaf. Batin Madun.
Madun tidak beranjak pulang, sampai seluruh ruangan benar-benar sepi dan tersisa satu orang, siapa lagi kalau bukan Wak Kholil lelaki tua yang selalu bawa tongkat kemana-mana. Madun terus memperhatikan Wak Kholil, pasti dia, pasti dia ingin sandal baru tapi cucu-cucunya tak ada yang membelikan.
Wak Kholil melangkahkan kakinya menuju sepasang sandal. Sandal warna merah. Tebakan Madun salah. Lalu, siapa yang memakai sandal ini. Percuma Madun sejak tadi menunggu lama sampai seluruh undangan bubar.
“Tumben, Dun. Tidak langsung pulang?”
“Ah. Gak papa bu,” Madun cuma senyum-senyum

Madun menceritakan tentang penemuannya pada sandal hijau baru miliknya pada sanga nenek. Nenek mengambil kesimpulan, pasti Pak Syukri, si pemilik hajatan, siapa lagi, siapa lagi yang masih di sana kalau bukan Pak Sukri dan istrinya.

Cerita tentang Pak Sukri yang mengambil sandal madun pun menjadi gosip paling top di kampong.
“Pak haji Sukri yang sawahnya berhektar-hektar itu?”
Orang-orang setengah tak percaya, mana mungkin orang setajir Pak Sukri mau-maunya curi sandal. Sudah haji lagi.

Esoknya Madun beli sandal baru, kali warna biru. Sandal hijau buntutnya sudah putus.
“Awa le, ati-ati lo, ojok sampe ilang mane.” Pesan nenek tiap kali Madun hendak ke musholla
Kali ini Madun tak salah bawa sandal, sandal yang dibawanya ke langgar sama dengan yang dibawa pulang. Nenek senang, Madun juga senang, nenek tak ngomel lagi.
Tapi sial, usia sandal Madun cuma satu minggu. Sandal itu raib setelah Madun kerjabakti bersama warga untuk acara Agustusan. Madun lupa kapan terakhir ia memakai sandal, ia baru sadar sandalnya tak ada saat akan pergi sholat ke langgar. Dan kabarnya Madun melihat sandalnya di depan rumah Yu Jum.
Madun beli sandal baru lagi. Dan sandalnya cuma tahan sampai lima hari. Pas jalan-jalan ia melihat sandalnya di depan rumah Pak Subur.

Cerita tentang sandal Madun yang sering hilang menjadi gosip yang paling sip. Cerita sandal kali ini lain, kalau dulu pencurinya satu korbannya banyak, sekarang kebalik pencurinya banyak korbannya cuma satu.
“Mungkin sandal Madun membawa berkah, makanya banyak orang mengincarnya,” ucap Mbok Nah yang sangat memegang teguh mitos.
“Ada benarnya, nah Pak Syukur kabarnya naik pangkat setelah mengambil Sandal Madun. Nah Pak Shobur anaknya yang di Malaysia datang membawa segepok uang untuk bapaknya. Terus Yu Jum, dagangannya langsung habis,” sambung yang lain menghubung-hubungkan
“Lalu Pak Rosyid, pencuri sandal Madun yang terbaru?” tanya yang lain.
“Ya… mungkin pas nyuri dia tidak baca basmalah, makanya gak berkah.” Tanggap yang lain lagi.
____


M. Khotim
Mahasiswa Fisipol jurusan Ilmu komunikasi UGM 
(alumnus PP Darul Ulum)

Rabu, 04 Februari 2009

Rainy Day

Hari ini hujan lagi , bulan januari sepertinya sudah bersekongkol dengan awan hitam untuk menjatuhkan jarum-jarum air di tubuh bumi hingga kuyup. Sudah berapa orang yang memutuskan berteduh di bawah naunganku. Tak cuma yang bermaksud menunggu datangnya bus untuk membawa mereka kembali ke rumah atau kost, namun juga mereka yang peduli dengan kesehatan (atau karena tidak membawa jas hujan) dengan berhenti sejenak menunggu hujan reda dan meninggalkan motor-motor mereka “dicuci” secara gratis. Ya beginilah keadaanku, keadaan halte didepan kampus bila hujan datang. Aku cukup bersyukur bisa melindungi mereka dari air langit. Walau tidak bisa menghindarkan mereka dari air yang terbawa sayap-sayap angin dari arah depan.
Kebanyakan mahasiswa. Bisa aku kenali dari tas penuh diktat atau tabung berisi kertas kalkir yang dipeluknya erat-erat takut terkena air. Raut wajah mereka yang entah memikirkan apa. Mungkin mempersalahkan kenapa hujan harus turun, mengumpat karena pakaian basah atau cemas karena jemuran di kontrakan lupa diangkat ^^v
Mungkin juga memikirka tugas kuliah yang lama-lama tambah menguras daya, upaya bahkan biaya.

Sudahlah teman, bukankah setiap hari kau diberi pilihan tentang hari macam apa yang akan kau jalani? Memilih bersikap ceria kepada hari atau bete sepanjang hari. Hufh.. andai aku dapat menasehati orang-orang yang setiap hari merasa dunia sungguh tidak adil. Tapi pasti sebelum aku berkata banyak mereka sudah lari ketakutan. Masa halte bus bisa ngomong sih?
Berpikirlah positif kawan. . seperti yang aku bilang tadi, bukankah hidup ini pilihan?
Hari ini kau boleh menyesali diri kerena tidak enak badan atau bergembira karena setidaknya masih hidup dan merasakan konsekuensi orang hidup.
Hari ini kau boleh merasa merana karena uang kiriman orang tua sudah menipis atau bersyukur kau bisa berlatih perencanaan keuangan yang lebih baik yang mungkin berguna jikalau sudah berkeluarga.
Hari ini kau boleh mengomel karena harus bangun pagi untuk kuliah jam 7 atau bersikap riang karena masih diberi kesempatan untuk kuliah.
Hari ini kau boleh menggerutu oleh tugas kampus yang seabrek atau menjalaninya dengan ikhlas berharap semua akan menjadi pahala bila dijalani dengan niat ibadah.
Hari ini kau boleh menyesali sesuatu yang tidak bisa diberikan orang tuamu atau merasa bersyukur karena berkat beliau kau bisa ada di dunia.
Hari ini terbentang di hadapanmu menunggu untuk kau lalui. You are the driver, not passenger in your life. Bagaimana kau jalani harimu itu semua tergantung padamu.
Daripada kau menyalahkan keadaan, percaya deh, syukur membuat hidupmu terasa jaauuh lebih baik. :)
Bersyukurlah atas baju yang mulai kesempitan, artinya kau cukup sehat ^^v
Atas barang-barang yang kotor, puntung rokok, dan kamar yang berantakan setelah main PS sebab berarti baru saja kau dikelilingi teman-teman terbaikmu.
Atas parkiran yang jauh, karena berarti kau mampu berjalan dan memiliki kendaraan kecuali pinjam. Hidup ini indah kalau kalian bersahabat dengannya saat menjalaninya. coba saja. . Dan kalian tak akan menggerutu hanya karena hujan deras ini.
Aku kadang gregetan ingin ngomelin kalian semua yang masih suka cemberut menyambut pagi. Walau hasrat ingin ngomelku tak separah si pohon tua yang tumbuh disampingku. Dari dulu dia ingin protes kepada orang-orang yang fotonya di pakukan di tubuhnya. Kasihan dia, harus hidup dengan paku yang semena-mena ditancapkan. Tapi bagaimana lagi si pohon itu tak bisa bicara sama seperti aku. Jika saja ada orang yang mengerti bahasa kami dan menyampaikan kepada kalian..

Hey, hujan hampir reda! aku selalu senang situasi seperti ini. Udara yang segar, bau tanah yang khas setiap hujan turun. Dan yang paling aku sukai ekspresi lega terlihat di semua wajah. Mereka pun beranjak pulang. Menstater motor kembali atau melompat ke dalam bus yang sama tuanya dengan kota ini. . Teman, aku senang membantu kalian berteduh walau si Karat akan menyapaku setelah ini. Aku tak bisa mengelakkan bila oksigen dan air hujan tadi sudah berkawan karib, si Karat pasti nimbrung.
Lihat, sang pelangi menyapa! Okay dude, Have a nice day today!

Sabtu, 14 Juni 2008

Good news! Good news!

Tau g siy tman-tman??
Tau g?
Tau g?
[akh.. G penting!]

kmaren tuw ceritanya daku terpana baca berita yang kaya marquee dbwh layar tipi i2 lho, apa c namanya?? Wis,pokokx gitu..
Naah dsitu t'tulis
"1305 SISWA SMA DI KOTA *biiibb...* TIDAK LULUS UJIAN NASIONAL"
(dsensor u/ mncegah pemkot daerah setempat mengadakan somasi k blog ini)

detik berikutnya daku teringat adek2 kelas kita.. a.k.a angkatan "RHOLAZ"
waduw,gmana y kabarnya?? Apa uda ada bocoran kaya kita dulu? Yg tiba2 daftar nilai bisa nangkring d pondok tinggi sebelum pengumuman resmi dsampaikan.. Apa ada yg *naudzubilah* g lu2s?

Ywdah.. So detik berikutnya..
(opo ae c?? Dari tadi detik berikutnya teroos?! Mangkel)<== sabar bu,admin kehilangan k0sakata..

Oke..N-E-X-T..
Akhirnya admin nge-hubungi guru favoritnya (halah..)
<== padune gak ndue n0mer'e guru liyo.. Hehew..

I've sent some short message services to her. . .

[assalamu'alaikum bu, bgmana kbrnya anak2 kls 3,ap sdh ada pengumuman?
Bu,mohon doakan anak2 banyak yg mau SPMB lg..]

options. . .send. . .

message sent to: ms. Duana

yah,kauand-kauand.. Se-ancur2-nya daku ngetik sms,Kalo sms sama guru tetep aja bo'. . . "berusaha sopan".. Speak2 dikit lah,walo jadinya te2p awut2an . . . -_-'

not long enough..

1 message recieved

ms. Duana
[Ya.blm dpt kbr.Msh dbawa p.Aspiyak.smg lls smua.amin.kmu lncr,to?kmu jg spmb lg?]

nah lo.. Guru2 aja blm tau kbrnya, apalagi anak kls3.. Deep inside i just hope they all graduate..

Stlh sejenak nglanjutin sms dgn ptanyaan standar ("alhamdulilah lancar bu..") dan jawaban2 sedikit ngaco ("wah bu,sy nda ikut SPMB lg,udah mecahin Pyrex masa mw kabur") ==> ngerti kan pyrex merk apaan? Huhuhu..
Yasudah,daku trus n0nton Lord of the Ring (arti dlm bhs jawa: "juragan akik") lg,daku lupa dg lu2san i2 tadi,gr2 LegoLas cakep bgt.. Fiuh. . .:D

lupa smp akirnya daku bobo malem,,

paginya noh,baru inget lagi (ga langsung inget sih, masih sempet nonton avatar dlu sambil maem soto,sempet nglamun2 najong sambil ngupil dan laen2.. Huakakaka..)

wis intinya aja..
Tergeraklah buat nelpon salah satu oknum rholaz.. Mumpung blm jm 11 siang,masih terjangkau lah,hehe..

Tuut.. (g ad rBt nya..)

=>oknum: aslmualaikum..
=>daku: kumsalam, dek ya'apa pengumumane? Udah keluar blm?
=>oknum: ya ampuun mbaak. . .! ALHAMDULILAAH LULUS KABEH..!
=>kuping: *ngggiiiiinnngggg. . . . . .* (gilak.. Amplinyaa??)
=>daku: waah selamat yaa!?!! (ikut2an heboh)
=>oknum: iyo mbak,aq seneng bgt, kaet ndek wingi deg2an. .. .Bla. . .Bla. . .Bla. . .

Owkay.. Gue udah dapet intinya..

Intinya adalah..

"RHOLAZ LULUS SEMUA KAUAND?!"

detailnya daku belum tau, ga tau siapa yg dpt nilai tertinggi, berapa rata2x, naek g dr taun kita, peringkat berapa,
y info2 yg laen lah pokokx..

Next posting lg dueh..

Woi!? AREK ELVARMY!
Anywhere u've been..
Kalian wajib kasih selamat buat anak2 kelas3.. Yg bener2 ngos2an UANx (6 mapel bo'!) hubungi semua nomer anak rholaz yg kalian punya.. Say congratz.. Kalian kan kakak kelas yg baik, ayolaah. . . Hohoho!

Wis ah! Wis kesel sik ngetik..

*C U @ next post*

================================

SEGENAP CREW ADMIN MENGUCAPKAN

SELAMAT & SUKSES
Atas kelulusan 100% RHOLAZ

(. . . .koq jd kaya ucapan grand opening mall sih??. . . .)

Rabu, 21 Mei 2008

once upon a time...

Hari pun berlanjut lagi

Pagi ini masih gelap.. masih dingin..

Tapi gerbang sudah dibuka, hm.. masih bapak yang sama sejak aku didirikan. Bapak yang merawat aku sejak 10 tahun lalu. Sejak sekolah ini dipindah dari tanah sebelah yang aku dengar sekarang ditempati MTS PK.. so here I am .. ditengah-tengah lapangan ini. Tegak menjadi saksi siswa-siswa yang terus bertumbuh

Yupz.. it’s absolutely dawn..
Mereka belum datang. Yah.. paling setengah tujuh lah mereka berdatangan. Mungkin sekarang masih ada di asrama masing-masing. Aku melihat sekeliling... dua gedung utama di lahan sempit, pepohonan penyejuk, satu pos satpam, sebuah koperasi mini ^_^
Tapi tempat ini bermakna.... Banyak yang sudah berubah, mereka datang dan pergi, berganti-ganti.. tiap tahun ada wajah-wajah baru. Aku mengamati dari tempatku berdiri, hehe.. geli melihat mereka, dengan wajah ketakutan, dibentak-bentak kakak kelasnya, dikerjain, carut marut mengemis tanda tangan.. kalau tidak salah mereka menyebunya MOS. Tak tahulah.. itu seperti drama bagiku. Mereka mengkeret sebelumnya, tapi tahun berikutnya mereka lah yang didepan, frontliner Executors, balas dendam, semacam lingkaran setan.
Aku memperhatikan mereka dewasa.. aku menyaksikan mereka berganti.. banyak yang berubah, pohon di tengah lapangan dulu sudah pergi..
Bunyi sang pemanggil juga tidak sama. Aku rindu suara bel pagi itu..

Ups... sudah ada yang datang! Seorang gadis. Dia berjalan ke kantor, masuk, dan membawa selembar bendera dengan penuh penghormatan, dan... berjalan ke arahku.
“Pagi pak Atiem..” sapanya kepada bapak yang datang paling pagi tadi. Bapak itu mengangguk.
Gadis itu lalu mengurai taliku.. ya ampun aku hampir lupa, setiap pagi memang ada saja yang memasangkan bendera ke tubuhku.
“Selamat pagi, Bendera..” sapaku pada si bendera, dia tersenyum riang melambai-lambai.
“Pagiii.. cerah sekali hari ini!” sahutnya. Yah.. kami bersama sampai nanti sore. Sampai dia diturunkan lagi. Setelah sampai puncak, gadis itu mangeratkan lagi taliku, mundur satu langkah, dan menghormat.. hmph.. aku tak dapat berkata-kata lagi, hanya berpikir alangkah bangganya negeri ini jika masih ada generasi muda yang menghargai sakanya..
Merah putih barkibar pelan dengan sahaja..

Satu persatu mereka berdatangan, sendiri-sendiri, atau berombongan. Saling menyapa, saling berbincang atau sekedar mengedikkan bahu. Dulu sempat satu masa aku melihat mereka berangkat dalam barisan, rapih, disiplin sekali.. namun sayang, sekarang sudah tak penah aku melihat barisan itu. Sesekali para guru datang, siswa-siswa serempak mengucapkan salam dan mencium tangan beliau dengan takzimnya.. ”barokallah.. barokallah...” kadang aku mendengar bapak-ibu guru berucap haru. Sampai sekarang pun aku masih juga merasakan aura akhlak yang mungkin tidak aku temukan di luar sana. Sungguh indah..

Jam 06.45, bel terdengar keras sekali. Melodinya sudah sangat aku hafal
”grrrreeeeeeekk...” gerbang mulai ditutup, hahaha...dari kejauhan banyak dari mereka yang lari pontang-panting. Lucu.. melihat mereka mengejar bel pagi, meloloskan diri dari gerbang yang mulai merapat perlahan.. dan menghela nafas dengan penuh syukur atau tersenyum kemenangan. Tak sedikit yang tertinggal di luar gerbang tertutup. mereka selalu diberi secarik kertas yang mereke sebut ”kertas poin”. Apakah akan diundi di akhir tahun? Aku tidak mengerti.. ^_^
Setelah keributan kecil di pagi itu, beberapa jam sekolah ini akan terlihat sepi. Sayup-sayup terdengar suara mengaji dari kelas-kelas, beberapa guru berkeliling sekedar mengecek kegiatan pagi itu. ”come on! Come on! English morning.. english merning” ajak bapak itu. ”yeess siiirrrr....” sahut mereka serempak.. 15 manit barlalu, terdengar bel lagi, para guru mulai masuk ke kelas, menunaikan tugas mulia mereka. Mencerdaskan anak bangsa. Di satu kelas masih banyak yang di luar. Jam kosong aku duga. Hehe… aku mengerti.

Oh.. siapa itu?? Geriknya tidak biasa. Seorang anak lelaki berjalan keluar kelas. Pandangannya mengawasi sekeliling. Tapi aku mengawasinya. Dia berjalan kearah tangga yang tepat di belakangku. Dia pikir tak ada seorang pun yang melihatnya. Seorang lagi keluar dari kelas dilantai dua. Kali ini seorang gadis. Dia juga menuju tangga. Aku sering melihat mereka. Dan … kajadiannya cepat sekali! Kecepatan cahaya (ups.. aku hiperbolis =). Sembari menuju kamar mandi, tangan anak lelaki itu mengulurkan kertas terlipat kearah pegangan tangga. Secepat kilat gadis itu menyambut ulurannya, mengambil kertas itu dan kemudian langsung balik badan kembali ke atas seolah tak terjadi apa-apa.. tapi raut wajahnya gembira sekali. Ia tersenyum-senyum. Aku ikut tersenyum. Satu surat terkirim lagi…

Aku adalah saksi kejadian-kejadian kecil di sini. Aku menyaksikan semua yang mereka kerjakan. Aku sadar sudah banyak yang pergi dari sekolah ini. Sedikit sekali yang ingat untuk kembali. Sekedar menjenguk almamaternya, menjenguk tempat yang mengajarkan mereka banyak hal, menjenguk aku barang kali? Aku mengerti, mereka pargi untuk hal yang mereka kejar. Sekolah ini hanya salah satu settle penuntun takdirnya. Yang berusaha menjadikan mereka manusia seutuhnya. Kelak mereka akan maengajarkan banyak hal yang mereka dapat dari sini ke orang-orang di sekeliling mereka, kepada anak-anak mereka nantinya. Kenangan akan tempat ini tek akan pernah mati. Aku yakin itu. A never ending story.

Bel terdengar lagi.. ah.. aku terlalu banyak bicara rupanya. Ini sudah sore. Matahari bersinar kuat, silau senja tepat di hadapanku. Mereka menghambur keluar dari kelas. Berjalan menyemut keluar gerbang. Beriringan, lalu melambaikan tangan di ujung jalan. ”sampai besok, sampai besok” kataku pada mereka. Itu pun kalau mereka dapat mendengarku.
Gadis yang tadi pagi mengibarkan bendera menghampiriku lagi. Kali ini dia bersama temannya. Dia memandang bendera sukup lama, dan dengan kode temannya dia dan temannya menghormat bersamaan. Sejenak. Kemudian tangannya diturunkan lagi. Mereka lalu mulai membuka ikatan taliku. Dan mengulurnya perlahan. salah satu dari mereka menahan tali agar bendera tidak meluncur kebawah dan yang lainnya berusaha menggapai si bendera. Dia berkibar pelan menyapaku. Aku tau maksudnya. ”sampai besok kawan..” balasku.
Tugas kedua gadis itu sudah salesai sekarang. Bendera diantarkan mereka ke tempatnya beristirahat malam ini. Aku hanya berharap malam nanti tidak hujan agar taliku tak melapuk. Agar tidak putus di tengah upacara. pandanganku mengikuti kedua gadis itu berjalan menjauh keluar gerbang. Bapak yang tadi pagi mengunci semua pintu.. meja-meja akan beristirahat dengan aman.

Satu hari berlalu lagi..
Sampai besok. Aku masih ingin melihat semangat kalian esok pagi..

Regrads,
Tiang Bendera